Menyibak Tabir Drama Indonesia Zaman Jepang, Menguak Luka Kelam Masa Lalu

Karya sastra Indonesia pada zaman Jepang, terutama drama, mampu memotret peradaban masyarakat dan ideologi penguasa. Drama-drama tersebut menjadi corong propaganda politik Jepang. Di sisi lain, bagi generasi penerus di Jepang, masa pendudukan Jepang di Indonesia merupakan masa lalu yang kelam dan keji. Hal itu merupakan luka lama yang ditutup-tutupi oleh pemerintah Jepang, sehingga generasi muda tidak mengetahui sejarah kelam tersebut.

Dr. Cahyaningrum Dewojati, M.Hum. menjelaskan bahwa peristiwa pendudukan atau penjajahan Jepang merupakan luka lama. “Pemerintah Jepang menganggap bahwa penjajahan merupakan aib, sehingga tidak perlu diketahui oleh generasi muda Jepang. Tidak ada buku sejarah atau museum di Jepang yang menginformasikan penjajahan Jepang terhadap Indonesia,” kata Cahyaningrum dalam acara NGONTRAS#3 (Ngobrol Nasional Metasastra ke-3) dengan format Kuliah Pakar, Sabtu (16/10). Selengkapnya

Karya Sastra sebagai Sarana Propaganda Politik Jepang

Karya sastra pada masa pendudukan Jepang tidak banyak, tetapi keberadaannya cukup penting. Karya berupa drama bisa menjadi sarana propaganda politik Jepang. Di dalam teks drama terekam jejak sejarah, pergulatan ideologi, dan situasi kehidupan masyarakat. Bahkan teks drama juga merekam propaganda sebagai strategi budaya politik Jepang kepada jajahannya.

Dr. Cahyaningrum Dewojati, M.Hum., dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), Yogyakarta, ketika dihubungi menjelaskan bahwa sastra Indonesia pada zaman Jepang, khususnya karya drama, merupakan bagian penting dari sejarah sastra Indonesia. “Drama termasuk yang mendapat angin segar, karena diyakini mampu menjadi alat propaganda Jepang,” tegas Cahyaningrum yang akan menjadi pembicara dalam acara Kuliah Pakar, Sabtu mendatang (16/10/2021). Selengkapnya

Terhimpit Politik, Sastra Indonesia Menjadi Sastra Bonsai

Sastra Indonesia tidak lebih dari sastra bonsai, yakni karya sastra yang kerdil akibat dikerdilkan oleh pengarangnya sendiri lantaran terhimpit kekuatan politik. Akhirnya sastrawan kita menjadi intelektual tradisional yakni mengikuti kemauan penguasa karena merasa dihimpit oleh kekuasaan. Padahal seharusnya sastrawan menjadi intelektual organik.

Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, menjelaskan bahwa sastra Indonesia adalah sastra bonsai, karena pengarang banyak mengalami ketakutan-ketakutan ketika hendak mengisahkan persoalan kebangsaan kita, termasuk persoalan politik pada masa Orde Baru. “Sastrawan kita dihantui oleh mitos-mitos yang menakutkan, sehingga karya-karya mereka menjadi sastra bonsai alias sastra yang mengerdilkan dirinya sendiri,” kata Yapi, dalam acara Webinar NGONTRAS#2 (Ngobrol Nasional Metasastra) bertema ‘Politik dalam Sastra’ yang digelar oleh Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Jember, bekerja sama dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember (FKIP UNEJ) dan Kelompok Riset Sastra dan Tradisi Lisan (KeRis TraLis), Sabtu (18/9/2021). Selengkapnya