Napak Tilas Perjalanan Akademis dan Kultural Prof. Ayu Sutarto

Perjalanan kehidupan Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A. adalah perjalanan akademis dan kultural. Sebagian besar waktu yang dimiliki dipergunakan untuk pengabdian di bidang akademik dan kegiatan-kegiatan kultural. Perpaduan keduanya bukan saja membawanya pada posisi sebagai ilmuwan yang rendah hati, melainkan juga mampu menyedot keharuan masyarakat adat. Di antara keharuan itu, Pak Ayu, panggilan akrabnya, diangkat sebagai warga kehormatan Wong Tengger, sehingga dalam berbagai acara adat selalu menjadi undangan kehormatan berdampingan dengan para pejabat kabupaten atau provinsi.

Sosok Pak Ayu adalah sosok fenomenal karena mampu memadukan dua potensi, yakni logika dan rasa. Logika membawa Pak Ayu pada posisi ilmuwan yang disegani. Rasa membawanya pada ranah budayawan yang nglangeni. Apa dan siapa Pak Ayu sebagai ilmuwan dan budayawan? Jawabnya akan ditemukan dalam Webinar rutin bulanan secara daring pada NGONTRAS#8 (Ngobrol Nasional Metasastra ke-8) dengan tema Meneruskan Pemikiran Prof. Ayu Sutarto (Pakar Tradisi Lisan Indonesia). Selengkapnya

Pakar Tradisi Lisan UNEJ: Antara Mandalungan dan Pandalungan, Mana yang Benar?

Tradisi lisan merupakan salah satu produk budaya yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran, karena di dalamnya mengandung kearifan lokal dan nilai-nilai peradaban. Salah satu yang menarik untuk didiskusikan adalah Mandalungan, baik dari sisi tradisi lisan, toponimi, maupun terkait batu purba. Namun, muncul pertanyaan mendasar, yang benar Mandalungan atau Pandalungan?

“Mandalungan dan Pandalungan itu sama-sama benar, tetapi merujuk pada makna yang berbeda. Mandalungan merujuk pada orangnya, sedangkan Pandalungan merujuk pada tempatnya.” Demikian penegasan Dr. Sukatman, M.Pd., pakar tradisi lisan dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember (FKIP UNEJ), dalam Seminar Nasional bertajuk NGONTRAS#5 (Ngobrol Nasional Metasastra ke-5), Sabtu (4/12/2021). Selengkapnya

Dr. Gres Grasia Azmin: Silat Tidak Hanya Ciat-ciat, Tapi Mengajarkan Multikulturalisme

Tradisi lisan di Nusantara cukup beragam, salah satunya silat, atau pencak silat. Silat merupakan tradisi lisan khas Betawi. Banyak orang menganggap bahwa silat hanyalah persoalan adu fisik, ciat-ciat, gedebag-gedebug, alias main pukul. Padahal tidak. Silat mengajarkan banyak hal kepada kita.

“Silat dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Banyak hal yang dapat diserap sebagai edukasi dari silat, termasuk di dalamnya adalah mengajarkan nilai-nilai multikulturalisme,” demikian penegasan Dr. Gres Grasia Azmin, M.Si., dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta (FBS UNJ), dalam Seminar Nasional bertajuk NGONTRAS#5 (Ngobrol Nasional Metasastra ke-5), Sabtu (4/12/2021). Selengkapnya

Dr. Sukatman: Rekonstruksi Kebudayaan sebagai Sumber Belajar Terpadu

Kebudayaan di berbagai belahan Nusantara perlu direkonstruksi. Hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk pengembangan industri wisata dan sumber belajar terpadu. Kebudayaan dan tradisi lisan dapat dimanfaatkan sebagai sumber dan media pembelajaran. Salah satu kebudayaan yang perlu direkonstruksi adalah kebudayaan Mandalungan.

 Rekonstruksi kebudayaan wilayah ‘Tapal Kuda’ di Jawa Timur, yakni  Mandalungan, perlu dilakukan guna sebagai pengembangan industri wisata dan sumber belajar terpadu,” demikian penegasan Dr. Sukatman, M.Pd., pakar tradisi lisan dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember (FKIP UNEJ). Pernyataan tersebut disampaikan ketika dihubungi untuk persiapan presentasi Seminar Nasional dalam NGONTRAS#5 (Ngobrol Nasional Metasastra ke-5), Sabtu mendatang (4/12/2021). Selengkapnya