NGONTRAS#14 dengan tema Sastra Poskolonial

[NGONTRAS#14]

Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat Jember (HISKI Jember) bekerja sama dengan Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Univesitas Jember (FIB UNEJ), Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jember (FKIP UMJ), Jurnal Semiotika, dan Kelompok Riset Sastra Humaniora (KeRis SASHUM), mempersembahkan:

NGONTRAS#14, dengan tema Sastra Poskolonial.

Sastra poskolonial berkelindan dengan paradigma superioritas Barat terhadap inferioritas Timur, baik dalam refleksinya sebagai orientalisme, imperialisme, atau kolonialisme. Kajian poskolonial juga mengeksplorasi dimensi “memandang dan dipandang” atau cara pandang subjek dan objek.

Sekelumit persoalan yang kemudian muncul, bagaimana pola-pola dan residu kolonialisme yang terekam di dalam karya sastra? Bagaimana kekuatan Barat dalam memandang Timur? Bagaimana pula counter hegemoni yang dapat dilakukan Timur kepada Barat? Selengkapnya

Dr. Akhmad Taufiq: Spiritualitas Puisi Itu Ranah Pos-Agama

Spiritualitas itu berada pada ranah pos-agama, setelah agama, di atas agama. Ranah ini bukan lagi pada tataran syariat, melainkan pada hakikat. Spiritualitas berbeda dari religiositas. Tetapi spiritualitas dapat dicapai melalui jalan religiositas, jalan agama. Meskipun berada pada wilayah pos-agama, tidak boleh dipertentangkan antara syariat dan hakikat. Dalam religiositas Islam, spiritualitas dapat dicapai melalui laku sufi, dengan zuhud dan menapaki dari tataran lillah, billah, hingga fillah. Puisi-puisi spiritual hanya dapat ditulis oleh penyair yang menjalani laku sufi atau menemukan momentum sufistik.

Demikian rangkuman paparan pakar dari Universitas Jember (UNEJ), Dr. Akhmad Taufiq, M.Pd., dalam Webinar NGONTRAS#13 (Ngobrol Nasional Metasastra ke-13), dengan tema “Spiritualitas dalam Puisi” yang diselenggarakan oleh Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat Jember (HISKI Jember), Sabtu (27/8/2022). Selengkapnya

Dr. Aprinus Salam: Spiritualitas Puisi Itu Bebas dari Konteks

Spiritualitas merupakan ranah hakiki yang bebas dari konteks, tidak memiliki konteks apa pun. Ranah yang bebas (tidak terikat) ruang dan waktu, tidak berideologi, tidak bertujuan, tidak berhasrat dalam pengertian manusiawi, tidak berkarakter, tidak terikat aturan, bebas kelas, bahkan tidak perlu kesepakatan. Spiritualitas tidak sama dengan religiositas, meskipun keduanya beda tipis. Karena religiositas adalah spiritualitas yang sudah punya konteks. Puisi yang spiritual adalah puisi yang hakiki, tidak terikat konteks. Spiritualitas meniadakan konteks untuk menjadikan dirinya ada secara hakiki.

Demikian rangkuman paparan pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Aprinus Salam, M.Hum., dalam Webinar NGONTRAS#13 (Ngobrol Nasional Metasastra ke-13), dengan tema “Spiritualitas dalam Puisi” yang diselenggarakan oleh Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat Jember (HISKI Jember), Sabtu (27/8/2022). Selengkapnya

NGONTRAS#13 dengan tema Spiritualitas dalam Puisi

[NGONTRAS#13]

Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat Jember (HISKI Jember) bekerja sama dengan Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Univesitas Jember (FIB UNEJ), Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Univesitas Jember (FKIP UNEJ), Jurnal Semiotika, Kelompok Riset Sastra, Tradisi Lisan, dan Industri Kreatif (KeRis SasTraLis-Inkrea), dan Kelompok Riset Pertelaahan Sastra Konteks Budaya (KeRis PERSADA) mempersembahkan:

NGONTRAS#13, dengan tema Spiritualitas dalam Puisi.

Puisi bukan sekadar ekspresi dan apresiasi terhadap kehidupan, melainkan representasi sejarah peradaban. Ia juga menjadi aktualisasi intelektualitas dan spiritualitas. Berawal dari kata, berujung pada makna, berintensi menjadi ideologi.

Pertanyaan yang kemudian muncul, kekuatan penggerak seperti apa yang dimiliki oleh puisi? Spiritualitas seperti apa yang dapat direpresentasikan di dalam puisi? Apa pula implikasi puisi dalam sejarah peradaban?

Untuk menjawab serangkaian pertanyaan itu, mari kita simak paparan pakar puisi dalam Webinar NGONTRAS#13. Selengkapnya