Webinar Nasional HISKI Jember Mengulik Chairil Anwar sebagai Penyair Pelopor

Chairil Anwar yang dikenal sebagai penyair “Binatang Jalang” adalah penyair pelopor. Bukan sekadar pelopor Angkatan ’45, sebagaimana yang selama ini kita ketahui, tetapi pelopor penyair Indonesia. Di barisan penyair Indonesia, dia adalah pelopor, yakni pelopor penyair Indonesia.

Demikian salah satu rangkuman Webinar Nasional melalui Zoom Meeting dalam memperingati “100 tahun” Chairil Anwar, yang diselenggarakan oleh Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat Jember (HISKI Jember), Sabtu (2/4/2022).

Webinar dengan tajuk NGONTRAS#9 (Ngobrol Nasional Metasastra ke-9) yang bertema “Meneruskan Pemikiran Chairil Anwar” ini diselenggarakan kerja sama dengan Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Univesitas Jember (FIB UNEJ), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (FTIK UIN KHAS Jember), dan Kelompok Riset Pertelaahan Sastra Konteks Budaya (KeRis PERSADA). Selengkapnya

NGONTRAS#9 dengan tema Meneruskan Pemikiran Chairil Anwar

[NGONTRAS#9]

Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat Jember (HISKI Jember) bekerja sama dengan Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Univesitas Jember (FIB UNEJ), Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS Jember), dan Kelompok Riset Pertelaahan Sastra Konteks Budaya (KeRis PERSADA) mempersembahkan:

NGONTRAS#9, dengan tema Meneruskan Pemikiran Chairil Anwar.

Chairil Anwar (lahir di Medan, 26 Juli 1922, meninggal di Jakarta, 28 April 1949) adalah penyair legendaris, fenomenal, dan menjadi pelopor Angkatan ’45 karena puisi-puisinya mampu menciptakan tren baru pemakaian kata dalam berpuisi yang terkesan sangat lugas, solid, dan kuat. Penyair “Binatang Jalang” yang juga pernah menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta ini, telah mendapat banyak apresiasi, baik oleh masyarakat sastra maupun nonsastra. Selengkapnya

Napak Tilas Perjalanan Akademis dan Kultural Prof. Ayu Sutarto

Perjalanan kehidupan Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A. adalah perjalanan akademis dan kultural. Sebagian besar waktu yang dimiliki dipergunakan untuk pengabdian di bidang akademik dan kegiatan-kegiatan kultural. Perpaduan keduanya bukan saja membawanya pada posisi sebagai ilmuwan yang rendah hati, melainkan juga mampu menyedot keharuan masyarakat adat. Di antara keharuan itu, Pak Ayu, panggilan akrabnya, diangkat sebagai warga kehormatan Wong Tengger, sehingga dalam berbagai acara adat selalu menjadi undangan kehormatan berdampingan dengan para pejabat kabupaten atau provinsi.

Sosok Pak Ayu adalah sosok fenomenal karena mampu memadukan dua potensi, yakni logika dan rasa. Logika membawa Pak Ayu pada posisi ilmuwan yang disegani. Rasa membawanya pada ranah budayawan yang nglangeni. Apa dan siapa Pak Ayu sebagai ilmuwan dan budayawan? Jawabnya akan ditemukan dalam Webinar rutin bulanan secara daring pada NGONTRAS#8 (Ngobrol Nasional Metasastra ke-8) dengan tema Meneruskan Pemikiran Prof. Ayu Sutarto (Pakar Tradisi Lisan Indonesia). Selengkapnya